Benarkah Menikah Menggunakan Adat Ini Lebih Mahal?

379

Kutipan.net – Indonesia memiliki ragam suku dan budaya yang begitu kaya, yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Karenanya, begitu banyak calon pengantin yang memilih menggunakan konsep tradisional saat ingin menikah dengan mengusung suku dan budaya asalnya.

Menurut Resti Nendia, Direktur Utama Nendia Primarasa, salah satu jasa catering dan paket pernikahan yang berbasis di Jakarta, Jawa, Minang dan Sunda adalah tiga suku yang paling banyak digunakan oleh pasangan pengantin ketika ingin menikah.

“Tiga suku itu memang paling banyak. Karenanya, vendor-vendor yang menyediakan spesialis Jawa, Minang dan Sunda juga banyak. Sehingga mencarinya tidak terlalu sulit dan harga yang ditawarkan pun tidak semahal untuk suku lain,” ungkap dia di Gebyar Pernikahan Indonesia (GPI), Jumat (20/1/2017).

Lanjut dia, jika calon pengantin ingin menikah dengan mengusung suku atau adat lain, biasanya lebih mahal, contohnya Bali.

Hal ini, kata Resti, dipengaruhi permintaan adat di luar tiga adat tadi yang terbilang sedikit. Sehingga, vendor yang menyediakan dekorasi dan perank-pernik pernikahan bernuansa Bali cukup sulit ditemui.

“Semakin yang menggunakan sedikit, maka akan menjadi lebih mahal. Vendornya akan lebih langka. Misalnya Bali, mulai dekorasi pelaminannya sendiri biayanya lebih mahal. Nggak semua vendor perias bisa merias pengantin Bali. Jadi, pake vendor yang khusus dan lebih eksklusif,” jelas dia.

Tak hanya Bali, calon pengantin yang ingin menggunakan adat atau suku lain seperti Makassar, Palembang hingga Aceh juga harus mengalami hal serupa. Malah, kata Resti, perbedaan menggunakan adat yang belum umum digunakan ini bisa mencapai Rp15 juta.

“Tergantung paketannya. Kalau ambil yang gedung standar, bisa dikenakan banyak biaya, perias, musik, dekorasi. Kalau yang gedung plus dan eksluaif, adat apapun sudah include,” tutup dia.

 

Sumber: Suara.com

SHARE